Mak Sana, Asisten Masak yang Buta Aksara


Pendelegasian tugas memasak, amat sangat penting dilakukan untuk menghemat tenaga, waktu, dan memaksimalkan kapasitas produksi. Pendelegasian dalam usaha catering yang saya jalankan dilakukan dengan dua cara. Pertama, investasi alat memasak yang tangguh, canggih dan mekanis, misal doughmixer yang sangat diandalkan untuk membuat adonan roti yang berat atau mengocok belasan telur dalam waktu singkat. Atau alat penggiling daging elektrik yang bisa mencacah banyak daging menjadi lembut seketika. Oven raksasa dengan kapasitas ribuan kue kering sekali masuk, mesin penggilas adonan mie atau stick, klakat ukuran jumbo untuk mengukus, dan lain-lain, semua penting saya miliki.

Pendelegasian kedua tentunya dengan memiliki karyawan, karena alat-alat catering saya masih bersifat semi manual. Harus ada tenaga manusia yang menjalankan separuh pekerjaan para mesin tersebut. Sejauh ini saya punya dua asisten wanita yang sangat bisa diandalkan, salah satunya bernama Mak Sana.

Mak Sana berumur sekitar kepala 5, bertubuh kecil ramping dan luar biasa gesit. Gerak-geriknya cepat nyaris seperti tokoh kartun favorit saya, tazmania. Saya bisa dibilang kalah gesit dan kuat dibandingkan dengan beliau. Tak heran jika beliau adalah asisten utama saya, yang selalu saya minta datang jika ada pesanan catering yang tidak bisa saya tangani sendiri. Pekerjaan yang saya delegasikan biasanya bersih-bersih, mencetak ratusan adonan basah atau kering, dan menjaga oven kue kering. Namun satu hal yang tidak pernah saya tugaskan: pergi ke pasar. Sebab beliau buta aksara. Padahal gaya belanja saya itu, asisten harus memegang catatan, dan menuliskan harga bahan makanan yang dibeli dalam secarik kertas yang saya sobek.

Kami sering menggoda beliau, apa nda pusing kalo tidak bisa baca tulis. Dengan entengnya beliau menjawab, selama punya uang beli beras, tentu ga akan pusing. Bahkan ajakan pemerintah untuk masuk kelas gerakan berantas buta aksara beliau tolak mentah-mentah. “Malah pusing kalau disuruh baca! ” jawab Mak Sana lugu. Ah, untungnya saya masih berprinsip punya asisten masak itu ga perlu pinter, yang penting nurut.

Jadi, ketika kemarin saya mendadak harus mengisi stan bazaar makanan di salah satu pameran, dan Mak Sana satu-satunya asisten yang bisa diajak untuk menjaga stan selama saya menjadi peserta acara, saya harus putar akal. Saya membawa 9 jenis produk makanan berbeda, dan tidak mungkin bisa diingat harga dan nama tiap jenisnya dalam waktu singkat. Sebagai informasi tambahan, Mak Sana juga tidak bisa membaca nominal angka, namun entah bagaimana paham nilai mata uang. Jadi solusi saya adalah menerapkan sistem perbedaan warna stiker produk (untungnya saya juga memiliki 9 stiker berbeda warna untuk tiap produk). Stiker-stiker tersebut saya tempel di luar, lalu saya beri keterangan harga. Harapan saya, pembeli bisa membaca sendiri nama sekaligus harga produk makanan yang kami jual, dan nanti Mak Sana tinggal mengambil produk dengan warna stiker yang mereka tunjuk/ beli. Benar-benar brilian dan sistematis, hehe. Kelemahannya cuma satu, kalau disuruh nempel stiker, pasti ada beberapa yang salah tempel atau ditempel terbalik. Mak Sana oh Mak Sana, asisten masak yang buta aksara.

Advertisements

Melihat, Mempelajari dan Menyikapi Peralihan Besar yang Terjadi Saat Ini


Kita adalah saksi peralihan raksasa yang saat ini terjadi: dari perusahaan menjadi platform, dari peradaban industri ke peradaban digital. Tentu saja, peralihan ini bukan hanya soal bisnis dan ekonomi, tapi juga seluruh cara kita hidup.

Judul : The Great Shifting

Penulis: Rhenald Kasali

Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama

Cetakan: 2018

Tebal: lv+523 halaman

ISBN: 978-602-03-8760-4

Buku ini merupakan buku koleksi ketiga saya dari seri karya Rhenald Kasali, dan satu-satunya buku yang berhasil saya tuntaskan dengan singkat, 3 malam. Buku-buku yang lain entah kenapa tidak berhasil saya kunyah dengan nyaman selayaknya buku ini. Saya rasa karena buku ini disusun tidak melulu dari sudut pandang ekonomi, yang merupakan keahlian Rhenald Kasali, tapi juga semua elemen kehidupan yang ada, sehingga saya bisa menangkap intisari materi yang disampaikan Rhenald Kasali terkait disrupsi dan peralihannya yang terjadi saat ini. Mungkin saja karena dalam penyusunan buku ini Rhenald Kasali dibantu oleh 16 orang mentee yang menyumbangkan gagasan, membantu menuliskan, dan menjadi sekondan dalam menjelajahi dunia platform yang belum banyak dikenal para orang tua seperti saya.

Dalam pembuka buku ini, Rhenald secara gamblang menjelaskan apa itu The Great Shifting. Proses migrasi besar-besaran dari suatu peradaban ke peradaban lainnya, yang merupakan suatu keniscayaan akibat perubahan teknologi (pada awalnya) (halaman xxix). Teknologi ini menybabkan peralihan (shifting) dalam segala hal, menjadikan disrupsi yang bergerak cepat, dan membuat hal yang kita kenal menjadi usang dan ketinggalan jaman. Hal ini penting kita cermati, sebab dalam satu keluarga inti, ada dua generasi berbeda yang saya sadari: orang tua sebagai generasi millenial dan anak sebagai generasi Z. Orang tua menerima pendidikan baru mengenal teknologi, terutama dunia cyber. Sedangkan anak kita, sebaliknya, mengenal teknologi bahkan sebelum mereka masuk dunia pendidikan formal. Kenyataan itu yang membuat saya terpacu membaca lebih lanjut buku ini, semata karena ingin melihat lebih dalam, dunia seperti apa yang sekarang kita tempati.

Dalam bab selanjutnya, Pak Rhenald menggambarkan bahwa dunia saat ini telah mejadi sebuah platform, dan lagi-lagi itu disebabkan oleh kemajuan teknologi (Bab 1: Ketika ‘Produk’ menjadi Platform, hal. 3) . Secara singkat, platform adalah sebuah struktur yang dijalani sekaligus untuk mempertemukan berbagai kebutuhan (halaman 33). Hampir semua produk menjadi platform, misal saat belanja barang, kita langsung menuju platfrom belanja (bukalapak, tokopedia, dll), saat berkomunikasi kita akan membuka platform facebook, wa, twitter, dll. Dan hal ini sangat menggeser kebiasaan-kebiasaan masyarakat dengan sedemikian besarnya, sehingga mempengaruhi hampir sendi-sendi kehidupan yang dijelaskan dalam bab selanjutnya. Kehidupan yang berubah tersebut, antara lain cara manusia berinteraksi (Bab2: Teknologi Mengubah Interaksi Manusia, halaman 41). Kini kita dihadapkan pada dunia cyber. Rhenald membahas secara komprehensif pentingnya digital parenting untuk membekali anak kita yang secara natural adalah cyber baby. Betapa ngerinya saya melihat pemaparan data cyber crime yang terjadi saat ini, baik di Indonesia maupun di luar negeri dalam bab 3: Ketika yang Tersembunyi Terungkap (halaman 79). Belum lagi fenomena statistik real time yang memungkinkan kita bisa mengetahui perubahan bumi dari detik ke detik (halaman 127), dan bagaimana semua jejak digital kita di internet direkam dan diolah dengan telematika sehingga semua produsen mampu memetakan dengan tepat dan cepat kebutuhan konsumennya. Contoh, saat memesan transportasi online, kita mengetahui mereka mudah berada di dekat lokasi kita, dan sebaliknya dengan driver yang mampu melihat dimana letak berkumpulnya para pelanggan (halaman 132). Semuanya menyebabkan perubahan sistem ekonomi menjadi sharing economy berbasis sharing resources, saling berbagi peran ekonomi dari masing-masing resources yang dimiliki (halaman 145).

Bagaimana sharing economy itu dipraktikkan? Rhenald membahasnya secara detail pada Bagian II dan III, dimana sektor kesehatan, pendidikan, ekonomi, kebudayaan dan bisnis saat ini sedang mengalami pergeseran yang sangat berbeda dari cara sebelumnya. Tiap-tiap sektor dibahas secara mendalam dengan paparan data terkini, membuat saya nyaris menahan napas, tidak menyangka sedemikian besarnya perubahan jaman yang terjadi sekarang. Dalam banyak hal, saya juga mengamini bahwa shifting telah mempengaruhi pola kehidupan saya pribadi, dan salut kepada Rhenald yang telah menyajikan data dengan apik.

Pada akhirnya, sebab buku ini alih-alih disusun sebagai buku ‘how to’, namun lebih membuka cakrawala kita akan shifting, Rhenald menutup buku ini dengan menggambarkan cara 11 perusahaan merespon disrupsi yang ada (halaman 447). Karena keberhasilan tidak pernah bersifat final, berbagai macam cara dilakukan oleh perusahaan-perusahaan agar tetap relevan dengan zaman. Bagian terakhir buku ini memang membahas pengaruh shifting dalam bisnis dan ekonomi. Namun secara garis besar, ada satu hal yang disarankan Rhenald dalam menyikapi disrupsi dan peralihan besar yang terjadi : menjadi tetap relevan dengan jaman.

#2019gantidomisili: Perjuangan Pasutri LDR


Isu nasional yang sedang marak akhir-akhir ini adalah #gantipresiden. Nyaris sama dengan isu kerumahtanggan kami, #2019gantipresidendomisili. Bagaimana tidak, 5 tahun menjalani pernikahan sampai berbuah seorang balita kriwul super lucu, bisa dikatakan kami hidup di ‘jalanan’.

Tahun pertama menikah, saya menerima beasiswa pendidikan magister dari LPDP di Universitas Brawijaya. Maka kehidupan kami saat itu, adalah di Pondok Mertua Indah, dengan suami yang berkorban bolak-balik Probolinggo-Malang nyaris dua hari sekali. Perjalanan ditempuh minimal 4 jam, dan suami baru bertolak ke Malang setelah dinas dari Rumah Sakit Umum Daerah Kabupaten Probolinggo selesai, sampai di Malang jam 8 malam, dan jam 3 subuh harus bergegas kembali bekerja di Kraksaan, Probolinggo. Saya yang waktu itu merasakan hamil, memang tidak bisa jauh-jauh dari suami. Pun ketika anak kami llahir, suami yang tidak bisa jauh-jauh dari anak. Walaupun setiba di Malang si anak sudah terlelap dan saat kembali ke Probolinggo si anak bahkan belum melek! Kehidupan suami selama 2 tahun itu sebagian besar benar-benar habis di bangku bis dan angkot yang jauh dari kata nyaman.

Berlanjut ke tahun ketiga pernikahan, ketika saya telah menyelesaikan studi, kami pun dengan bahagia membangun sarang kecil di Kraksaan, mendekat dengan tempat suami mencari nafkah. Drama ‘ngukur panjang jalan’ sejenak terhenti, alhamdulillah. Namun tak lama kemudian hari-hari kita diwarnai dengan perjalanan bolak-balik Kraksaan-Kota Probolinggo, yang ditempuh selama 1 jam perjalanan demi membersamai orang tua saya yang mulai sakit-sakitan. Pada saat itu kami memiliki kendaraan pribadi, mobil karimun imut, yang jauh lebih nayamn daripada antri nunggu bis . Tak lama kemudian, seiring dengan memburuknya kondisi kesehatan orang tua, Lalu saya pun memutuskan tinggal bersama orang tua, dan suami kembali mendrama dengan tiap hari pulang-pergi kerja meniti jalan sepanjang 25 km. Sarang kami di Kraksaan hanya jadi tempat tidur siang suami, selebihnya dikunci tanpa penghuni.

Tahun keempat, gantian suami yang mendapat anugrah melanjutkan studi dengan beasiswa LPDP, dan beliau memutuskan untuk berkuliah di UGM, Yogyakarta dengan niat kuat memboyong anak dan istri untuk mendampingi. Alhamdulillah, indahnya berumah tangga, seatap sedapur pun kami jalani selama hampir 7 bulan. Otomatis sarang kecil kami di Kraksaan pun dihuni burung-burung emprit yang bersarang nyaman di ventilasi udara rumah.

Tahun kelima, ternyata kami boyongan dari kontrakan di Jogja kembali ke Kota Probolinggo setelah ayahanda saya wafat, dan ibunda dirasa perlu untuk ditemani. Suami dengan besar hati kembali mengalah untuk tinggal sendiri di paviliun mini dekat tempat studi. Ah, kembali kita menjalani romansa LDR, dengan jarak yang semakin jauh, 9 jam perjalanan kereta api.

Sebagai seorang ibu rumah tangga yang hobinya memasak dan berkebun, banyak sekali hal-hal yang wajib saya tahan, seperti belanja pernak-pernik dapur yang lucu, furniture kekinian, pot-pot gantung yang lagi ngetrend seperti kokedama, sebab saya juga bingung mau ditaruh dimana. Rumah kami di Kraksaan sengaja dikosongkan walaupun sesekali dibersihkan, dan tak mungkin menimbun barang di tempat yang tidak berpenghuni. Kontrakan di Jogja pun baru dikembalikan kuncinya, dan proses boyongan benar-benar mengorbankan jiwa dan raga, sebab beberapa tanaman yang saya pelihara terpaksa dipangkas dan dibuang. Di Kota Probolinggo, di rumah ibunda saya pun demikian, barang2 beliau demikian banyaknya, dan saya sungkan untuk menata koleksi saya di sana. Akhirnya hanya beberapa tanaman kecil yang saya pelihara di sudut rumah ibu, itupun hanya berupa tanaman-tanaman hias yang berharga murah,dan saya benar-benar puasa belanja furnitur idaman (sempat belanja 1 set meja makan dan ruang tamu, dan ditaruh di rumah Kraksaan, sampai sekarang tidak dimanfaatkan, bahkan disindir suami untuk tidak membeli sesuatu yang belum akan digunakan dalam waktu dekat, hiks hiks hiks).

Maka itulah isu #2019gantipresidendomisili semakin santer diperbincangkan dalam obrolan kami. Ingin rasanya menempati rumah sendiri, bebas mengatur segala inventaris rumah tanpa sungkan, mencurahkan segenap rasa saya pada tetek bengek barang domestik. Karena pada tahun itu, suami sudah kelar studi, dan dipastikan akan kembali ke Kraksaan. Secara logika, pastilah kami akan kembali menempati sarang kecil kami di sana dan memanfaatkan set meja makan yang jauh hari telah kami beli. Tapi sepertinya tidak semudah itu, sebab ibunda saya berasa sendiri di rumah masa kecil saya, dan ibu mertua saya juga kukuh meminta anaknya (suami saya) membangun rumah di tanah keluarga. Jadi pusing sendiri menyambut #2019gantipresidendomisili!

Pengalaman Iniasi Menyusu Dini (IMD) dengan Operasi Caesar, Tak Semudah yang Dibayangkan


Sejak divonis dokter mata dan kandungan bahwa aku akan melahirkan secara caesar, ada satu hal besar yang kami persiapkan sejak awal kehamilan : prosedur Inisiasi Menyusu Dini (IMD) kami. Untuk itu sengaja kami memilih dokter yang bisa memfasilitasi IMD dengan baik walaupun saat itu kami tinggal di kota kecil. Kami memang sangat menyadari pentingnya IMD sebab hal ini merupakan pintu utama keberhasilan menyusu di tahapan selanjutnya. Kami juga sangat ingin memberikan asupan gizi pertama yang terbaik bagi bayi kami kelak, melalui kolostrum, cairan pertama ASI yang sarat zat kekebalan tubuh dan sangat berguna bagi bayi kami. Belum lagi manfaat lainnya antara lain memberi kenyamanan dan kepercayaan diri bagi ibu dengan menyusui langsung.

Dokter kandungan yang memeriksa janin kami pun menyatakan bahwa beliau tidak bisa menjamin keberlangsungan IMD jika proses persalinan dilakukan di Rumah Sakit Umum Daerah. Apa?!? Saya sempat bingung saat itu. Alasannya adalah proses persalinan akan diserahkan kepada departemen yang mengurus bayi, otomatis setelah bayi lahir, hal itu menjadi wewenang dokter anak. Akhirnya kami menyepakati proses persalinan dilakukan di klinik swasta tempat dokter kandungan kami bertugas.

Singkat cerita, lahirlah putra pertama kami, di tanggal 7 September 2014. Saya akui proses IMD tidak berjalan mulus 100%, sebab saya berada di ruang operasi. Tidak ada prosedur yang khusus dan wajar di sana untuk melakukan IMD sesaat setelah melahirkan, langsung di ruang operasi yang begitu dingin dan memungkinkan bayi akan menggigil. Apalagi saya harus menjalani proses penutupan luka dan pemasangan KB di saat yang bersamaan di ruang operasi. Secara teori hal tersebut sebenarnya bisa dilakukan, namun sayangnya di sana tidak bisa. Saya pun dipersipakan untuk kembali ke ruangan kamar inap, sementara bayi kami masih dikeringkan dan diadzani oleh ayahnya. Setidaknya, saat itu bayi kami mendapat pengawasan penuh ayahnya sehingga kemungkinan bayi kami mendapat cairan apapun selain ASI, tidak terjadi (sebelumnya kami juga menandatangani banyak sekali berkas sebelum proses persalinan, antara lain: persetujuan tidak mendapatkan susu formula, persetujuan untuk tidak menerima cairan dextrose bagi bayi, persetujuan pertanggungan resiko sebab kami meminta rooming in atau rawat gabung dan proses IMD).

Saya akhirnya memegang bayi saya yang pertama kali sekitar 30 menit setelah proses persalinan, dan kami langsung melakukan proses IMD. Lancar? Tentu tidak, sebab ini merupakan pengalaman pertama bagi saya, walaupun teori ini telah kami pelajari secara paripurna di bangku perkuliahan gizi. Banyak kehebohan yang terjadi, terutama betapa paniknya ibu saya melihat cucunya sangat ringkih namun dipaksa menyusu sendiri. Beliau tidak yakin dan belum memahami apa itu IMD. Beruntungnya, saat itu ada mertua kakak saya yang kebetulan pernah menerima pelatihan terkait IMD. Saya pun dibimbing dengan sabar oleh beliau, bagaimanan memposisikan bayi yang tepat saat memulai IMD. Kemana tenaga kesehatan di klinik tersebut? Ada, bidan yang mengawasi kami saat itu. Sayangnya, pengalamannya sepertinya kurang, bahkan sebelum proses IMD selesai bidan tersebut justru meninggalkan kami di ruangan, hiks. Saya harap beliau hanya oknum ya, saya yakin di luar sana banyak sekali bidan yang sangat berkompeten membimbing dan membersamai iu baru dalam proses IMD.

Proses IMD kami berjalan 45 menit, sebelum akhirnya bayi kami berhasil menyusu untuk pertama kali. Isapannya sangat kuat kala itu, dan saya yakin dia telah menghisap beberapa tetes kolostrum ASI, alhamdulillah. Setelah itu bayi kami kembali dibawa ke ruangan bidan untuk dibersihkan secara menyeluruh, untuk kemudian dikembalikan kepada saya dan menjalani rawat gabung selama 4 hari. Bayi saya hanya diambil bidan saat waktu mandi dan kontrol kesehatan dengan dokter anak, selebihnya selama 24 jam dia bersama saya di ruangan inap.

Pengalaman menjadi ibu untuk pertama kali, dengan melukan operasi caesar dan IMD serta rawat gabung itu membutuhkan daya juang yang tinggi, sebab ternyata kamilah satu-satunya pasangan orang tua yang melakukan hal tersebut di kinik itu.

Pantas saja kami harus menandatangani banyak sekali seurat persetujuan sebelumnya, haha. Keberadaan suami yang siap siaga 24 jam sungguh saat berarti bagi saya, sebab beliaulah yang bisa diandalkan saat berhubungan dengan logika, sesuatu yang sempat hilang kontrol pada diri saya yang begitu sarat perasaan emosional (dalam arti yang positif) selama melahirkan.

Berani Salah


Siang itu, sengaja kami mengajak Aisar (3thn 10bln) ke bank. Pak satpam dengan ramah membuka pintu bank dan setelah menanyakan keperluan, segera memberikan kartu antrian. “Nomer 8 ya Pak, Bu, mohon ditunggu”

Wow… nomer delapan, pandangan saya langsung menuju deretan kursi di depan Customer Service, membayangkan berapa lama yang diperlukan sampai tiba giliran kami. Kami pun duduk bersama di kursi yang berwarna hijau botol, warna favorit Bunda. Sedikit lega dan nyaman setelah terpapar cuaca tengah hari yang panas, apalagi Aisar maunya digendong masuk ke Bank.

Sembari menunggu, Aisar memainkan kartu antrian, dan memilih duduk sendiri alih2 dipangku Bunda. “Bunda, ini angka berapa?”

“Delapan, nak. Kalau ada dua lubang , itu angka delapan. ”

Aisar diam sambil memutar-mutar kartu antrian, kami pikir ini saat yang tepat untuk mengenalkan kembali bentuk angka 8. Selama ini Aisar sudah mengenal bentuk angka 1 dan 2. Kami memang sengaja tidak menggegas pengetahuan Aisar akan bentuk angka dan atau huruf, walaupun Aisar sudah bisa menghitung urut 1-12, dan memahami konsep jumlah 1-5. Sedapat mungkin kami mengenalkan angka dan huruf sesuai kejadian yang kami alami, sesuai perkembangan logika umurnya, jadi tidak pakem.

“Ini angka satu, Nda. Bukan delapan.” Kata Aisar tiba-tiba dengan mantapnya.

Awalnya saya mengernyit, kok bisa angka 8?

“Iya, ada dua angka 1,” celoteh Aisar sambil menunjuk gambar angka di kartu antrian. Saya tambah bingung, dan kemudian suami ikut nimbrung sambil menjelaskan, “Iya, ini kan angka satunya?” sambil menunjuk ke kartu antrian.

Setelah mengamati lagi, barulah saya disadarkan bahwa angka yg dilihat dan dimaksud Aisar adalah lubang angka delapan yang memang berbentuk persegi panjang, mirip angka 1! Untung dikasih petunjuk di saat yang tepat oleh suami, sebelum saya menyalahkan pendapat Aisar.

Saya tertegun, sekaligus merasa geli dan takjub dengan pola pikir Aisar. Dan menyadari, terkadang saya sebagai Bunda yang katanya siap sedia membersamai Aisar di rumah, juga sering ‘kecolongan’ momen cemerlangnya, hiks. Saya yakin, kalo siang itu suami ga ikut ke bank, pasti saya sudah menyalahkan pendapat Aisar.

Saya termenung. Dalam keluarga kecil kita, memang sang suami lah yang paling memberikan fasilitas belajar yang paling luas, baik untuk Aisar maupun untuk saya sebagai istrinya. Dengan cara bagaimana? Dengan cara memberikan kesempatan kita untuk melakukan kesalahan.

Saya awalnya kurang setuju dengan sikap ini, sikap pembiaran melakukan kesalahan, sehingga saya memang suka buru-buru membenarkan apa yang menurut saya salah. Tak terkecuali terhadap Aisar. Tapi tidak dengan suami. Beliau akan membiarkan kesalahan itu terjadi sampai kita benar2 sadar bahwa telah melakukan kesalahan, sehingga kita sendiri yang berusaha mencari solusi. Ini sudah diterapkan suami sejak awal sampai selama 5 tahun pernikahan kami.

Kalau dipikir-pikir, memang dengan belajar dari kesalahan, pembelajaran yang saya dapat lebih kaya dan mendalam. Saya pribadi merasa lebih bebas dalam mengembangkan potensi diri tanpa merasa tertekan akan berbuat kesalahan. Saya merasa merdeka, dan otomatis kreatifitas semakin berkembang.
Kalau diterjemahkan di usaha catering togaboga yang saya rintis hampir 3 tahun terakhir, banyak sekali momen salah yang saya lakukan, tapi berulang kali suami menguatkan bahwa itu hanyalah biaya belajar. Alih-alih meratapi kesalahan dan mandeg, saya justru terlecut untuk terus bangkit, maju, dan memperbaiki kesalahan. Saya bahkan sempat berkata, togaboga siap salah dan jatuh 13 kali, tapi lebih siap lagi untuk bangkit dan berjalan 15 kali!

Pembiaran melakukan kesalahan ini saya pikir telah membuat saya untuk nyaman berproses dengan bahagia. Dan saya berdoa semoga saya juga bisa menerapkan sikap ini kepada Aisar.Apalagi bulan ini adalah pengalaman pertama Aisar masuk pendidikan formal tingkat PAUD.

Tips yang diberikan suami sebenarnya tidak sulit. cukup tiap pulang sekolah, kita menanyakan : Aisar senang di sekolah?

Tak jadi soal apakah selama di sekolah Aisar termasuk anak yang masoh belum bisa lepas dari pangkuan Bundanya, yang penting Bunda siap membersamai Aisar berproses dalam lingkungan sekolah barunya, dan selalu mendukung dan menghargai tumbuh kembangnya dengan NYAMAN dan BAHAGIA.

Nyaman Sarah, Grup Tempat Berbagi Ilmu Pangan Lokal


Sudah lama ingin punya produk togaboga dengan nama “Nyaman Sarah”. Dalam bahasa Madura, artinya sangat enak. Dulu sebelum togaboga lahir, rencana dipakai untuk nama catering. Tapi banyak yang ga suka, ga setuju, dan menganggap aneh (duh kayaknya 95% ide togaboga itu selalu dicap aneh pada awalnya, hahahuhu). Dan bismillah, ternyata Alloh memantapkan niat dan langkah Nyaman Sarah untuk berjalan. Bukan dalam bentuk produk catering, tapi justru grup whatsapp (wa) para bunda. Isinya bincang2 khusus pangan lokal. Saling berbagi tentang info, olahan, gizi, dan seputar pangan lokal Indonesia. Sok ya ngomong Indonesia, lha gimana, awalnya mau bikin khusus area Probolinggo, tapi yang join kok dari Sumatra sampai Kalimantan, alhamdulillah.

Karena sudah saatnya kita berdaya bersama. Tak soal ilmu yang masih fakir, asal bisa menebar kebermanfaatan. Ternyata feed back yang ada justru menambah ilmu yang kurang. Misalnya, ketika berbagi resep jus penggempur asam urat dari nanas dan seledri bomber, ternyata ada yang juga berbagi jus nanas dengan seledri sup, hanya saja ditambahkan sedikit jahe untuk mengurangi langu daun seledri lokal. Di lain kesempatan, ada yang berbagi cara menggunakan kayu manis pada sup daging, lengkap dengan manfaatnya. Wow… Subhanalloh.

Teringat pesan profesor saat kita bincang empat mata: tak mengapa kalau ini jalan sunyi (ngulik pangan lokal bukan hal yg populer, kita akui), yang penting membawa keberkahan dan keselamatan (sumpah, profesor yang terkenal killer justru bikin saya nangis). Umur Nyaman Sarah masih seminggu, tiap hari ada agenda seru. Semoga langkah kecil ini senantiasa maju, kalaupun berhenti semoga hanya sedang mencari inspirasi, dan bisa istiqomah berjalan, bahkan bisa berlari, pantang berhenti!
Aaamiiin

Kalo mau join, bisa hubungi wa 082232251105 ya

#nyamansarah

Mengulas Pasar Milas, Surganya Bumi dan Pangan Lestari


Sumber: dokumentasi pribadi

Mungkin tidak banyak yang mengetahui keberadaan Pasar Milas. Saya sendiri baru mengetahui pasar ini dari seorang teman kuliah suami yang aktivis pecinta lingkungan. Begitu mendengar bahwa ini adalah pasar khusus makanan lokal organik dan vegetarian, saya langsung tertarik. Apalagi pada waktu itu ada undangan untuk mengikuti kelas singkat pembuatan roti sourdough di sana. Wah, saya langsung mengajak anak dan suami untuk berkunjung! Jaraknya pun kebetulan tidak jauh dari kontrakan kami, hanya sekitar 2 km.

Pasar Milas diadakan setiap hari Rabu dan Sabtu mulai jam 10 sampai jam 2 siang. Disebut Milas sebab pasar ini memang digelar di halaman Restoran Vegetarian Milas. Pasar ini terletak di jalan Prawirotaman IV 127B (belakang Bank BNI, Jalan Prangtritis). Dari jalan utama, tempat ini agak tersembunyi dan tertutup, jadi kami agak kesulitan mencari lokasinya walaupun berbekal panduan google maps. Setelah berhasil menemukan Pasar Milas dan memarkir kendaraan di luar, kami berjalan masuk. Suasana di dalam Pasar Milas sangat kontras sekali dengan kondisi luar yang hingar bingar. Kami seakan memasuki sebuah kebun besar yang jauh dari peradaban, sebab banyak sekali pepohonan yang menutupi bagian gedung restoran (yang ternyata arsitektur di sini berkonsep semi terbuka). Pantas saja kalau tempat ini diulas oleh Lonely Planet (buku panduan perjalanan dan penerbit media digital terbesar dunia) sebagai sebuah taman rahasia (a secret garden restaurant).

Restoran ini memang memiliki halaman yang luas, dan di area depan terdapat semacam teras paving beratap bambu. Di sanalah berjajar dengan rapi meja-meja kecil di kanan kiri, tempat mitra-mitra penjual menjajakan produk mereka. Kami menemui banyak produk yang luar biasa memanjakan mata pencari makanan lokal dan sehat, diantaranya: roti dan kue kering bebas gluten, seperti kukis kelor, kukis sorghum, cake sorghum. Ada kopi lokal yang baru diseduh dari biji kopi yang digiling di saat itu juga. Ada sayur-mayur segar (daun kelor, mint, bunga kecombrang, murbei, markisa) dan smoothies, jajan pasar bebas gluten (mie ongklok dari tepungsingkong), onde-onde ubi ungu, tempro alias kombinasi tempe kedelai lokal dan combro, tahu organik), aneka mie kering bebas gluten, keju, yogurt, dan mayonnaise vegetarian, homemade jams dan kombucha (produk fermentasi teh), es krim vegan (khusus produk ini, penjualnya bule bernama Ismail), sabun, sampai shampoo dan body butter yang ramah lingkungan sebab dibuat dari bahan alami dan bebas residu kimia.

Berdasarkan info di instagram, kita memang bisa belanja kebutuhan harian di Pasar Milas, terutama aneka sayuran dan buah-buahan non pestisida kimia, bahan pangan lokal, dan makanan minuman olahan rumahan dan artisan yang menyehatkan. Pasar ini tidak menyediakan kantong plastik alias berkonsep zero waste, jadi pengunjung dihimbau untuk membawa wadah dan atau botol serta kantong belanja sendiri. Jika tidak membawa, biasanya mereka juga sudah menyiapkan kemasan bebas sampah, alias menggunakan bungkus daun pisang yang diikat dengan serabut pelepah pohon pisang.

Sebelum acara pelatihan membuat roti sourdough, kami menyempatkan diri untuk menjajal beberapa produk di Pasar Milas. Saya langsung tertarik membeli smoothies saat melihat tumpukan sayuran segar lokal yang ada. Pilihan saya adalah smothies kombinasi pisang, kelor, murbei, dan markisa. Sayuran yang dijual rupanya sesuai dengan panen kebun saat itu. Setelah diblender, segelas smoothies segara saya nikmati sembari tetap jongkok di depan meja kecil penjual. Asik sekali berinteraksi langsung sambil menikmati smoothies yang sangat segar. Sisanya saya tempatkan dalam botol yang sengaja saya bawa dari rumah. Saya juga mampir ke lapak penjual cake dan kue kering bebas gluten, dan membeli sebungkus biji bunga matahari yang telah dikupas dan flax seed. Niat hati ingin membuat cake dengan topping kedua biji tersebut. Setelah puas berbelanja dan mencicipi beberapa menu, saya pun beranjak ke dalam restoran untuk mengikuti kelas singkat pembuatan roti sourdough (roti adonan asam).

Roti sourdough sendiri adalah roti yang dibuat tanpa menggunakan ragi instan (Saccharomyces) sebagai agen pengembang. Roti ini dibuat dari ragi liar yang secara alami berasal dari tepung, umumnya dari jenis Candida milleri dan Lactobacillus. Caranya? Dengan membiarkan tepung terfermentasi oleh udara sekitar. Karena alami dan prosesnya lama, roti ini diklaim sebagai roti yang sehat dan mudah cerna. Selain tanpa ragi instan, pembuatan roti sourdough kali ini menggunakan bahan-bahan alami: biji beras merah, gula kelapa, minyak kelapa, dan seperlunya terigu yang diputihkan (bleaching). Saya belajar berproses dan sejenak melupakan hal-hal yang berbau instan. Di kelas ini muncul kesadaran kuat akan pentingnya membuat asupan makanan yang alami demi jiwa dan tubuh yang lestari!

Sumber: Dokumentasi pribadi

Setelah selesai mengikuti kelas, saya menghampiri suami dan anak yang ternyata masih asyik njajan dan duduk di sebuah gubuk kecil dekat pintu masuk Pasar Milas. Mereka ternyata asik menikmati nasi hijau beras coklat dan es dawet sembari bercengkerama dengan seorang bapak dan anaknya yang berwajah blasteran.

“Itu tadi siapa Yah?” tanya saya dalam perjalanan pulang.

“Bapak itu tadi ternyata pendiri Milas”, jawab suami. Berdasarkan obrolan suami dengan beliau, ternyata Milas bukan sekedar restoran atau pasar vegetarian. Milas merupakan komunitas yang memiliki misi mendukung petani organik lokal dan artisan makanan olahan. Milas bergerak di bidang restoran vegetarian, playgroup, handicraft gallery, community market, organic shop, dan enviromental education. Milas memiliki gerakan pSaya pun semakin tercengang dengan info tersebut. Sepertinya kecil, tapi ternyata komunitas ini bergerak secara kontinyu dan sangat mengedepankan konsep kehidupan yang berkelanjutan (sustainable living) serta tetap eksis di tengah gempuran makanan kekinian yang jauh dari kata alami dan sehat. Pantas saja sebagian besar pengunjung yang adalah para bule yang haus akan ke-khas-an produk pertanian Indonesia, terutama yang organik dan vegan. Saya sangat bersyukur sempat berkunjung ke Pasar Milas, sebab darisana saya jadi mengetahui aneka produk makanan lokal yang belum pernah saya temui sebelumnya (kombucha? Siapa sangka ada jenis minuman probiotik dari teh yang bebas susu?mie ongklok dari singkong?Sampai keju vegetarian, wow!).

Saya berdoa, semoga misi Pasar Milas menjadikan bumi dan pangan lestari akan segera terwujud di banyak daerah diIndonesia!