Tips dan Trik Seputar Kue Kering


1. Apa bedanya butter dengan roombutter?apa keduanya bisa saling menggantikan?
Tidak berbeda. Butter atau roombutter itu sebenarnya sama saja.
2. Untuk pembuatan kuker, jika sebelumnya tepung di sangrai lebih dulu apa akan mempengaruhi rasa/tekstur?
Ada pro kontra para baker di sini. Kalo saya, lebih pilih disangrai dulu. Memastikan tepung matang, meminimalkan kadar air sehingga kue yang dihasilkan lebih awet.

3. Saya sudah mempraktekan tips dr mba tahun lalu untuk pembuatan putri salju kuning telur di rebus dulu, tapi kenapa masih belum bisa lumer ya?😆 pembuatannya padahal pakai full butter
Berarti komposisi resepnya beda. Saya ga pakai butter sama sekali, tapi benar2 ngeprul😆. Pastikan kuning telurnya dihancimurkan sampai lembut. Saya memakai blender bumbu kering untuk melembutkan kutel rebus.

4. Untuk nastar yang mulus itu triknya gmn mba?soalnya punya saya baru kluar dari oven(belum di oles) sudah pecah2
Tergantung resep dan cara mulungnya. Beberapa resep nastar memang menghasilkan nastar yg sedikit mekar srtelah dipanggang, dicirikan dengan nastar yg pecah2. Biasanya disiasati dengan pengolesan kuning telur (egg wash) yang dilakukan saat nastar sudah matang dan dingin, sehingga retakannya tertutup olesan. Bisa juga adonan nastar keburu mengering sebelum dicetak. Jadi pastikan adonan nya selalu tertutup plastik agar tidak kena angin.

5. Kue kering itu rata2 brp lama expired nya jika d simpan d toples kedap udara baik d suhu ruang ataupun kulkas?
Bagaimana biar lbh awet? (dari cara menyimpan/cara produksinya)
3-6 bulan, kecuali yang mengandung bahan basah seperti nastar. Tepung disangrai dulu agar awet. Pakai desican atau silica gel pada toples atau kemasannya. Masuk kulkas bisa lebih awet lagi.

6. Apakah berpengaruh pada rasa/tekstur/warna jika cookies d hangatkan dng cara d oven kembali dng alasan biar lbh awet atau karna melempem?
Tidak ada

7. Kan ada produk yg mix butter+margarin. Kalau qta tambahkan butter/BOS bagaimana perbandinganx?
Ini sesuai selera. Semakin banyak butter, semakin rapuh dan wangi. Semakin banyak margarin, semakin kokoh dan gurih. Untuk memaksimalkan hasil akhir, biasanya memang dikombinasi antara keduanya, dengan takaran menyesuaikan selera masing2. Contoh: selera konsumen saya dan target market produk saya adalah kue kering dengan rasa super jadoel, jadi saya tidak memakai butter sama sekali karena dari sisi konsumen berasa eneg. Dari segi saya sendiri, penggunaan butter membuat kue lebih rawan hancur, hal yang sangat saya hindari sebab pengiriman dilakukan ke seluruh indonesia. Untuk mendapatkan tekstur rapuh dan lumer, saya kreasikan dari komposisi bahan selain penggunaan butter. Wanginya saya dpaatkan dari penggunaan susu bubuk dan perisa berkualitas baik.

8. D resep bonus yg kue bihun itu pakai bihun apa?bihun jagung,bihun beras,soun,dll?
Kue kering soun ya, bukan bihun. Soun yang dipakai berwarna putih, merk Cina biasanya.

9. Gmn cara bedakan tepung sagu dng tepung tapioka/kanji?karna ada merk sagu tani yg dia sagu ada,tapioka jga ada. Dan pernah beli d TBK minta sagu,d kasihnya kanji. Katax kalo untuk bikin cookies kan ke2 tepung ini gk bisa saling menggantikan
Tidak bisa dibedakan secara kasat mata, karena tekstur dan warna hampir sama. Biasanya harga tepung sagu lebih mahal. Lebih mudah beli produk yang berkemasan (bukan curah) sehingga labelnya lebih jelas. Ada resep kue semprit yg bisa menggantikan antara sagu dan tapioka. Cek resepnya diah didi:
http://www.diahdidi.com/2013/07/sagu-keju.html?m=1

10. Bolehkan sebut merk produk2 bahan kue yg premium dng yg standart?seperti,butter,margarin,gula halus,coklat,dll. karna kan berbeda hasilx jika kita bikin kue dri bahan premium dng yg biasa. Kan klo d makan sndiri maunya yg uwenak
Premium sekarang jarang bun,,, adanya pertalite😁
Tidak selalu bahan yang ‘wah’ menghasilkan hasil akhir produk yang uwenak. Contoh: brownies amanda tidak menggunakan coklat premium untuk bahannya, karena sudah sangat pas dengan menggunakan coklat yang biasa2 saja. Diganti coklat yg lebih mahal malah ga enak (silakan baca buku nya, Menikmati Kesuksesan Brownies Amanda oleh Indari Mastuti).
Intinya pakai bahan yang kita tahu betul sesuai dengan lidah kita. Misal, susu bubuk saya pakai merk Boerderij dari Hakiki Donarta, yg harganya jauh di atas harga susu bubuk kiloan di pasar tradisional, tapi masih di bawah harga susu bubuk indomilk yg banyak dipakai untuk kue kering. Tapi saya sudah sangat puas dengan merk pilihan saya.

Margarin juga sama. Ada yang cinta mati dengan blue band dan ga suka wangi palmboom. Tapi ada yang ngotot kalo ga pake palmboom, kue pastel nya ga bisa bruntusan cantik.
😅

11. Adakah resep cookies yg untuk under 1y+ atau untuk batita yg tdk mengandung bnyak gula, ada nilai gizinya & pastinya enak. Hehehehe
silakan cek di perpusnas, banyak buku2 mp asi tentang kukis sehat balita, Bunda. Sejauh ini favorit saya adalah buku karya Hindah Muaris.

12. Saya berencana bikir kue lebaran yg dri kulit pastry yg d tabur gula/almond,tpi puff pastry nya bikin sendiri. Kalo lihat d cara pembuatan itu pastry margarinx lngsung d bungkus k adonan tepung+mentega dll. Tapi sya juga pernah lht tetangga saya bkin jajanan pasar yg dri pastry itu bikinx d oles tipis2 d adonan tepung+mentega. Yg bener yg mana ya?
Pembuatan pastry ada beberapa metode. Yang penting adalah tahapan melipatnya. Mungkin resep saya bisa jadi inspirasi.
https://togaboga.wordpress.com/2013/07/09/puff-pastry-coookies/

dan

https://www.google.com/amp/s/togaboga.wordpress.com/2013/07/09/cum-cum-cream-horn/amp/

Advertisements

Balancing Baby, Beauty, and Business ala Togaboga


Saya sukaaa sekali dengan isu ini. Menjadi ibu produktif bukan berarti menjadi superior. Kuncinya bagaimana bisa menyeimbangkan elemen2 yang ada agar kita tetap waras sehat wal afiat dan akhirnya bisa berkarya dan bermanfaat bagi kemaslahatan umat, sesuai dengan peranan kita masing-masing (itulah definisi produktif menurut saya sendiri).

Nah, kalau saya sendiri, hidup seimbang antara urusan anak (baby), suami dan rumah tangga (beauty) serta laku usaha Togaboga (business) itu suatu tujuan pokok sekali. Awalnya agak pesimis, apa iya bisa? Sampai sekarang pun ternyata masih tertatih-tatih. Tapi kalau dirangkum dalam sebuah catatan perjalanan 5 tahun, ternyata ada rumusan umum yang bisa saya pelajari untuk mencapai kehidupan yang seperti demikian.

Pertama urusan bayi. Punya ‘buntut’ bikin wanita menjadi tidak produktif. Siapa yang bilang? Ada beberapa lho yang bilang demikian, cuma saya ga ingin mencantumkan nama. Tapi mari kita analisis bersama. Kehidupan setelah ber-anak memang bagaikan roller coaster bagi saya sendiri. Hamil di awal studi S2, melahirkan ditengah studi S2, dan membangun usaha di saat anak baru baduta. Baduta itu bayi dua tahun ya, lucu-lucunya si bayi, istilah kerennya the ‘terrible two’. Yang paling heboh di usia itu adalah tumbuh kembangnya yang amat sangat pesat baik dari semua hal. Saat itu, togaboga dibangun bak candi prambanan. Kerja rodi jam 11 malam sampai pagi, pesanan catering digarap sendiri menunggu si bayi terlelap. Waktu produktif saya adalah saat waktu istirahat bayi. Intinya, jangan tidur saat anak tidur. Berat? Pastinya. Yang ada malahs ering ketiduran bareng anak saat menyusui, hihi. Kalau sudah begini, namanya ‘beyond human’. Kita bukan supergirl dengan kekuatan super. Dijalani saja, dinikmati lelahnya, karena sebentar lagi akan ada fase selanjutnya.

Balancing beauty. Saat heboh dengan urusan anak dan tetek bengek rumah tangga, kadang kita lupa merawat diri. Dalam artian jasmani dan rohani ya. Sisir suka lupa taruh dimana, akhirnya ga sisiran. Bedak? Lipstik? Duh amburadul! Apalagi jadwal nyalon… Beuuuh sudah lupa tuh! Jangan sampai kejadian yaaa… Usahakan, tertib mandi pakai sabun yang wangi. Ini masih urusan cantik jasmani. Lha kalo udah bludreg sama urusan perumahtanggaan, kadang inner beauty juga sedikit luntur. Komunikasi produktif kualitasnya menurun. Kita pun berubah menjadi sosok mom-ster,,, hiiiiiyyyy serem! Nah kalo ini, solusinya banyakin ibadah, sholat diusahan tepat waktu, dihiasi sunnah rawatib, dan syukur2 rajin dhuha, tahajjud, dan tadarrus rutin. Apalagi kalo doyan puasa sunnah, wah salut!

Balancing business. Nah, cukup 1 tahun kegilaan menghandle catering sendirian. Ketika sudah paham betul bagaimana mengelola suatu produk catering, saatnya kita mencari asisten. Yup! Kita sangat berhak mendapat bantuan dengan mendelegasikan tugas2 tertentu kepada orang lain. Sebab, kita sudah paham akan jalannya suatu usaha, dan yang kedua usaha kita mau tak mau akan membesar dan tidka bisa dihandle sendiri. Di usianya yang ke-5, contohnya, Togaboga akhirnya bisa melepas hampir 80persen tugas perdapuran kepada asisten. Saat ini tugas saya hanya belanja, cek pembukuan, dan menyiapkan adonan kue. Sisanya seharian penuh dikerjakan asisten (gambaran umum: 1 karyawan menghasilkan 30 toples kue kering per hari. Togaboga punya 3-4 karyawan). Asik lo, ngemong anak sekaligus beberapa karyawan,,,, ga semua orang bisa menggaji orang lain. Ya kan??? Disini togaboga punya mimpi sederhana, agar ibu2 sekitar terhindar dari pinjaman bank ‘titil’ karena sudah ada pemasukan dari bekerja di Togaboga.

Jadi, penjabaran di atas sebenarnya rumusan (kok buanyak ya) aaya sendiri. Nah menyambut kelahiran anak kedua ini, insya Alloh Togaboga akan lebih produktif lagi, sebab sejatinya anak2 kita adalah guru dan sumber inspirasi kita. Sejak hamil anak kedua saja, saya udah merasa lebih cantik, lebih produktif, dan lebih bersemangat. Apalagi kelak bayi sudah lahir, wah setidaknya ada beberapa proyek khusus Togaboga yang akan saya jalankan bersama mereka. So, balancing baby, beautu, and business? Siapa takuuuut

Me, My Self, and I


Sudah lama sekali tidak menuliskan sesuatu terkait topik di atas. Kalau tidak salah, sejak SMA, saat semuanya masih dihandle sendiri (maksudnya tidak seperti sekarang, yang sudah ada soulmate suami dan buntut yang nyaris 2!).

Kehidupan setelah pernikahan memang bergulir bak cucian: direndam, digiling, direndam lagi, digiling lagi, diperas, baru dijemur sampai kering kerontang (lupa ga diangkat), belum lagi diseterika sampai rapi jali (kalo baju rumahan malah cuma dilipat asal saja). Prosesnya panjang, rumit, dan sedikit ada tekanan fisik yang mempengaruhi mental… Tsaaah…

Intinya adalah, saya cuma ingin menyoroti kehidupan saya sendiri, sekarang ini. Beberapa orang bilang, betapa beruntungnya saya menjadi seorang diri saya sendiri seperti sekarang. Untuk mereka yang berkata demikian, terima kasih banyak, Anda telah mengingatkan saya untuk senantiasa bersyukur. Yes, i am absolutely 100percent happy! 😊

Sebaliknya, ga sedikit juga yang suka mencampuri urusan pribadi saya, dengan segala macam cara. Demi mereka, saya pun banyak2 berterima kasih karena senantiasa mengingatkan saya untuk bersabar… (sambil elus dada, dan terkadang menyeka sedikit air mata di pipi).

Sudah hampir 6 tahun menjalani biduk pernikahan dan segala suka-sukanya (dukanya ga berasa,,, beneran!). Sudah selama itu pula menjalani kehidupan yang saya sadari sepenuh hati, saya pilih dan jalani sepenuh jiwa : sebagai ibu rumah tangga. Ibu rumah tangga lulusan S2. Yang juga awardee beasiswa lumayan bergengsi di negara RI ini.

Bagi orang yang ga paham dan saya sadari ga akan pernah paham jalan hidup saya, akn selalu ada hadiah kata2 manis yang bisa membuat gonjang ganjing suasana hati. Tapi itu dulu,,,sekarang sih saya biasa aja. Kenapa? Ya itu tadi, dijelaskan bagaimana pun, mereka yang terhormat, tidak akan pernah paham. 😁. Tapi saya paham akan ketidakpahaman mereka. Dan hari ini saya ingin menuliskan apa saja yang saya hadapi kala itu, demi mengingat memori manis yang pernah terjadi di kehidupan saya. Sekaligus melepas dan merelakan serta berusaha mengikhlaskan akan apa yang pernah terjadi. Karena saya butuh terus berjalan bahkan berlari untuk menjemput impian2 saya sendiri.

Okelah,,,forgiven but not forgotten,, ,siapa tahu bisa jadi ibroh bagi kita semua ya.

Berikut daftar komentar apa saja yang saya dapat selama ini:

1. Mbak jualan kue emang dapet uang berapa? Untung?

2. Ga eman sekolah s2 tapi ga kerja?

3. Anak kan bisa dititipin?

4. Dilarang kerja ya sama suami?

5. Di rumah terus ga bosen?

6. Kerjanya ngapain aja tiap hari? Ini selalu jadi pertanyaan wajib ibu saya,,, hampir selama bertahun-tahun.

7. Ini lo, kerja di bank gaji 3 juta. Kamu lulusan s2 di rumah aja, ngapain? Pas banget waktu itu saya lagi pegang sapu rumah, pakai daster, wajah no make up at all. Bayangin aja awkward nya.

8. Siapa yang mau beli kue beginian? Maksudnya siapa yang beli dagangan catering saya

9. Kuliah tinggi buat apa kalo ga dipakai ijazahnya?

10. Kerjamu cuma makan tidur sepanjang hari

11. Lihat, mereka kerja di kantor a, b, c, d dengan gaji e, f, g, h. Sukses!!! Khusus bagian ini, setiap hari saya disajikan profil para ibu pekerja lengkap dengan gajinya!

12. Kue kayak begini, dijual laku kah? Kembali menyingung dagangan catering saya

13. Ada lowongna pns, kenapa ga daftar? Hidupmu nanti aman, dapat tunjangan

13. Dll… Cukup saya aja yang tahu… Biar ga eneg, hehehe

Jadi, perlukah ada pembelaan atas semua pertanyaan di atas? Tidak perlu dong. Karena saya yakin, dijawab seperti apapun, tidak akan mendapat jawaban yang memuaskan.

Memangnya ga sedih dikatain begitu? Enggak, cuma sakit aja tapi ga berdarah kok.

Trus?

Ya…yaudah. Gitu aja. Tetap jalani hari dengan segala pernak perniknya. Jangan lupa sholat, zakat, puasa wajib. Syukur2 bisa dhuha, tahajjud, rawatib, sedekah, infaq, dan tetap senyumin orang2 yang suka nyinyir.

Mak Sana, Asisten Masak yang Buta Aksara


Pendelegasian tugas memasak, amat sangat penting dilakukan untuk menghemat tenaga, waktu, dan memaksimalkan kapasitas produksi. Pendelegasian dalam usaha catering yang saya jalankan dilakukan dengan dua cara. Pertama, investasi alat memasak yang tangguh, canggih dan mekanis, misal doughmixer yang sangat diandalkan untuk membuat adonan roti yang berat atau mengocok belasan telur dalam waktu singkat. Atau alat penggiling daging elektrik yang bisa mencacah banyak daging menjadi lembut seketika. Oven raksasa dengan kapasitas ribuan kue kering sekali masuk, mesin penggilas adonan mie atau stick, klakat ukuran jumbo untuk mengukus, dan lain-lain, semua penting saya miliki.

Pendelegasian kedua tentunya dengan memiliki karyawan, karena alat-alat catering saya masih bersifat semi manual. Harus ada tenaga manusia yang menjalankan separuh pekerjaan para mesin tersebut. Sejauh ini saya punya dua asisten wanita yang sangat bisa diandalkan, salah satunya bernama Mak Sana.

Mak Sana berumur sekitar kepala 5, bertubuh kecil ramping dan luar biasa gesit. Gerak-geriknya cepat nyaris seperti tokoh kartun favorit saya, tazmania. Saya bisa dibilang kalah gesit dan kuat dibandingkan dengan beliau. Tak heran jika beliau adalah asisten utama saya, yang selalu saya minta datang jika ada pesanan catering yang tidak bisa saya tangani sendiri. Pekerjaan yang saya delegasikan biasanya bersih-bersih, mencetak ratusan adonan basah atau kering, dan menjaga oven kue kering. Namun satu hal yang tidak pernah saya tugaskan: pergi ke pasar. Sebab beliau buta aksara. Padahal gaya belanja saya itu, asisten harus memegang catatan, dan menuliskan harga bahan makanan yang dibeli dalam secarik kertas yang saya sobek.

Kami sering menggoda beliau, apa nda pusing kalo tidak bisa baca tulis. Dengan entengnya beliau menjawab, selama punya uang beli beras, tentu ga akan pusing. Bahkan ajakan pemerintah untuk masuk kelas gerakan berantas buta aksara beliau tolak mentah-mentah. “Malah pusing kalau disuruh baca! ” jawab Mak Sana lugu. Ah, untungnya saya masih berprinsip punya asisten masak itu ga perlu pinter, yang penting nurut.

Jadi, ketika kemarin saya mendadak harus mengisi stan bazaar makanan di salah satu pameran, dan Mak Sana satu-satunya asisten yang bisa diajak untuk menjaga stan selama saya menjadi peserta acara, saya harus putar akal. Saya membawa 9 jenis produk makanan berbeda, dan tidak mungkin bisa diingat harga dan nama tiap jenisnya dalam waktu singkat. Sebagai informasi tambahan, Mak Sana juga tidak bisa membaca nominal angka, namun entah bagaimana paham nilai mata uang. Jadi solusi saya adalah menerapkan sistem perbedaan warna stiker produk (untungnya saya juga memiliki 9 stiker berbeda warna untuk tiap produk). Stiker-stiker tersebut saya tempel di luar, lalu saya beri keterangan harga. Harapan saya, pembeli bisa membaca sendiri nama sekaligus harga produk makanan yang kami jual, dan nanti Mak Sana tinggal mengambil produk dengan warna stiker yang mereka tunjuk/ beli. Benar-benar brilian dan sistematis, hehe. Kelemahannya cuma satu, kalau disuruh nempel stiker, pasti ada beberapa yang salah tempel atau ditempel terbalik. Mak Sana oh Mak Sana, asisten masak yang buta aksara.

Melihat, Mempelajari dan Menyikapi Peralihan Besar yang Terjadi Saat Ini


Kita adalah saksi peralihan raksasa yang saat ini terjadi: dari perusahaan menjadi platform, dari peradaban industri ke peradaban digital. Tentu saja, peralihan ini bukan hanya soal bisnis dan ekonomi, tapi juga seluruh cara kita hidup.

Judul : The Great Shifting

Penulis: Rhenald Kasali

Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama

Cetakan: 2018

Tebal: lv+523 halaman

ISBN: 978-602-03-8760-4

Buku ini merupakan buku koleksi ketiga saya dari seri karya Rhenald Kasali, dan satu-satunya buku yang berhasil saya tuntaskan dengan singkat, 3 malam. Buku-buku yang lain entah kenapa tidak berhasil saya kunyah dengan nyaman selayaknya buku ini. Saya rasa karena buku ini disusun tidak melulu dari sudut pandang ekonomi, yang merupakan keahlian Rhenald Kasali, tapi juga semua elemen kehidupan yang ada, sehingga saya bisa menangkap intisari materi yang disampaikan Rhenald Kasali terkait disrupsi dan peralihannya yang terjadi saat ini. Mungkin saja karena dalam penyusunan buku ini Rhenald Kasali dibantu oleh 16 orang mentee yang menyumbangkan gagasan, membantu menuliskan, dan menjadi sekondan dalam menjelajahi dunia platform yang belum banyak dikenal para orang tua seperti saya.

Dalam pembuka buku ini, Rhenald secara gamblang menjelaskan apa itu The Great Shifting. Proses migrasi besar-besaran dari suatu peradaban ke peradaban lainnya, yang merupakan suatu keniscayaan akibat perubahan teknologi (pada awalnya) (halaman xxix). Teknologi ini menybabkan peralihan (shifting) dalam segala hal, menjadikan disrupsi yang bergerak cepat, dan membuat hal yang kita kenal menjadi usang dan ketinggalan jaman. Hal ini penting kita cermati, sebab dalam satu keluarga inti, ada dua generasi berbeda yang saya sadari: orang tua sebagai generasi millenial dan anak sebagai generasi Z. Orang tua menerima pendidikan baru mengenal teknologi, terutama dunia cyber. Sedangkan anak kita, sebaliknya, mengenal teknologi bahkan sebelum mereka masuk dunia pendidikan formal. Kenyataan itu yang membuat saya terpacu membaca lebih lanjut buku ini, semata karena ingin melihat lebih dalam, dunia seperti apa yang sekarang kita tempati.

Dalam bab selanjutnya, Pak Rhenald menggambarkan bahwa dunia saat ini telah mejadi sebuah platform, dan lagi-lagi itu disebabkan oleh kemajuan teknologi (Bab 1: Ketika ‘Produk’ menjadi Platform, hal. 3) . Secara singkat, platform adalah sebuah struktur yang dijalani sekaligus untuk mempertemukan berbagai kebutuhan (halaman 33). Hampir semua produk menjadi platform, misal saat belanja barang, kita langsung menuju platfrom belanja (bukalapak, tokopedia, dll), saat berkomunikasi kita akan membuka platform facebook, wa, twitter, dll. Dan hal ini sangat menggeser kebiasaan-kebiasaan masyarakat dengan sedemikian besarnya, sehingga mempengaruhi hampir sendi-sendi kehidupan yang dijelaskan dalam bab selanjutnya. Kehidupan yang berubah tersebut, antara lain cara manusia berinteraksi (Bab2: Teknologi Mengubah Interaksi Manusia, halaman 41). Kini kita dihadapkan pada dunia cyber. Rhenald membahas secara komprehensif pentingnya digital parenting untuk membekali anak kita yang secara natural adalah cyber baby. Betapa ngerinya saya melihat pemaparan data cyber crime yang terjadi saat ini, baik di Indonesia maupun di luar negeri dalam bab 3: Ketika yang Tersembunyi Terungkap (halaman 79). Belum lagi fenomena statistik real time yang memungkinkan kita bisa mengetahui perubahan bumi dari detik ke detik (halaman 127), dan bagaimana semua jejak digital kita di internet direkam dan diolah dengan telematika sehingga semua produsen mampu memetakan dengan tepat dan cepat kebutuhan konsumennya. Contoh, saat memesan transportasi online, kita mengetahui mereka mudah berada di dekat lokasi kita, dan sebaliknya dengan driver yang mampu melihat dimana letak berkumpulnya para pelanggan (halaman 132). Semuanya menyebabkan perubahan sistem ekonomi menjadi sharing economy berbasis sharing resources, saling berbagi peran ekonomi dari masing-masing resources yang dimiliki (halaman 145).

Bagaimana sharing economy itu dipraktikkan? Rhenald membahasnya secara detail pada Bagian II dan III, dimana sektor kesehatan, pendidikan, ekonomi, kebudayaan dan bisnis saat ini sedang mengalami pergeseran yang sangat berbeda dari cara sebelumnya. Tiap-tiap sektor dibahas secara mendalam dengan paparan data terkini, membuat saya nyaris menahan napas, tidak menyangka sedemikian besarnya perubahan jaman yang terjadi sekarang. Dalam banyak hal, saya juga mengamini bahwa shifting telah mempengaruhi pola kehidupan saya pribadi, dan salut kepada Rhenald yang telah menyajikan data dengan apik.

Pada akhirnya, sebab buku ini alih-alih disusun sebagai buku ‘how to’, namun lebih membuka cakrawala kita akan shifting, Rhenald menutup buku ini dengan menggambarkan cara 11 perusahaan merespon disrupsi yang ada (halaman 447). Karena keberhasilan tidak pernah bersifat final, berbagai macam cara dilakukan oleh perusahaan-perusahaan agar tetap relevan dengan zaman. Bagian terakhir buku ini memang membahas pengaruh shifting dalam bisnis dan ekonomi. Namun secara garis besar, ada satu hal yang disarankan Rhenald dalam menyikapi disrupsi dan peralihan besar yang terjadi : menjadi tetap relevan dengan jaman.

#2019gantidomisili: Perjuangan Pasutri LDR


Isu nasional yang sedang marak akhir-akhir ini adalah #gantipresiden. Nyaris sama dengan isu kerumahtanggan kami, #2019gantipresidendomisili. Bagaimana tidak, 5 tahun menjalani pernikahan sampai berbuah seorang balita kriwul super lucu, bisa dikatakan kami hidup di ‘jalanan’.

Tahun pertama menikah, saya menerima beasiswa pendidikan magister dari LPDP di Universitas Brawijaya. Maka kehidupan kami saat itu, adalah di Pondok Mertua Indah, dengan suami yang berkorban bolak-balik Probolinggo-Malang nyaris dua hari sekali. Perjalanan ditempuh minimal 4 jam, dan suami baru bertolak ke Malang setelah dinas dari Rumah Sakit Umum Daerah Kabupaten Probolinggo selesai, sampai di Malang jam 8 malam, dan jam 3 subuh harus bergegas kembali bekerja di Kraksaan, Probolinggo. Saya yang waktu itu merasakan hamil, memang tidak bisa jauh-jauh dari suami. Pun ketika anak kami llahir, suami yang tidak bisa jauh-jauh dari anak. Walaupun setiba di Malang si anak sudah terlelap dan saat kembali ke Probolinggo si anak bahkan belum melek! Kehidupan suami selama 2 tahun itu sebagian besar benar-benar habis di bangku bis dan angkot yang jauh dari kata nyaman.

Berlanjut ke tahun ketiga pernikahan, ketika saya telah menyelesaikan studi, kami pun dengan bahagia membangun sarang kecil di Kraksaan, mendekat dengan tempat suami mencari nafkah. Drama ‘ngukur panjang jalan’ sejenak terhenti, alhamdulillah. Namun tak lama kemudian hari-hari kita diwarnai dengan perjalanan bolak-balik Kraksaan-Kota Probolinggo, yang ditempuh selama 1 jam perjalanan demi membersamai orang tua saya yang mulai sakit-sakitan. Pada saat itu kami memiliki kendaraan pribadi, mobil karimun imut, yang jauh lebih nayamn daripada antri nunggu bis . Tak lama kemudian, seiring dengan memburuknya kondisi kesehatan orang tua, Lalu saya pun memutuskan tinggal bersama orang tua, dan suami kembali mendrama dengan tiap hari pulang-pergi kerja meniti jalan sepanjang 25 km. Sarang kami di Kraksaan hanya jadi tempat tidur siang suami, selebihnya dikunci tanpa penghuni.

Tahun keempat, gantian suami yang mendapat anugrah melanjutkan studi dengan beasiswa LPDP, dan beliau memutuskan untuk berkuliah di UGM, Yogyakarta dengan niat kuat memboyong anak dan istri untuk mendampingi. Alhamdulillah, indahnya berumah tangga, seatap sedapur pun kami jalani selama hampir 7 bulan. Otomatis sarang kecil kami di Kraksaan pun dihuni burung-burung emprit yang bersarang nyaman di ventilasi udara rumah.

Tahun kelima, ternyata kami boyongan dari kontrakan di Jogja kembali ke Kota Probolinggo setelah ayahanda saya wafat, dan ibunda dirasa perlu untuk ditemani. Suami dengan besar hati kembali mengalah untuk tinggal sendiri di paviliun mini dekat tempat studi. Ah, kembali kita menjalani romansa LDR, dengan jarak yang semakin jauh, 9 jam perjalanan kereta api.

Sebagai seorang ibu rumah tangga yang hobinya memasak dan berkebun, banyak sekali hal-hal yang wajib saya tahan, seperti belanja pernak-pernik dapur yang lucu, furniture kekinian, pot-pot gantung yang lagi ngetrend seperti kokedama, sebab saya juga bingung mau ditaruh dimana. Rumah kami di Kraksaan sengaja dikosongkan walaupun sesekali dibersihkan, dan tak mungkin menimbun barang di tempat yang tidak berpenghuni. Kontrakan di Jogja pun baru dikembalikan kuncinya, dan proses boyongan benar-benar mengorbankan jiwa dan raga, sebab beberapa tanaman yang saya pelihara terpaksa dipangkas dan dibuang. Di Kota Probolinggo, di rumah ibunda saya pun demikian, barang2 beliau demikian banyaknya, dan saya sungkan untuk menata koleksi saya di sana. Akhirnya hanya beberapa tanaman kecil yang saya pelihara di sudut rumah ibu, itupun hanya berupa tanaman-tanaman hias yang berharga murah,dan saya benar-benar puasa belanja furnitur idaman (sempat belanja 1 set meja makan dan ruang tamu, dan ditaruh di rumah Kraksaan, sampai sekarang tidak dimanfaatkan, bahkan disindir suami untuk tidak membeli sesuatu yang belum akan digunakan dalam waktu dekat, hiks hiks hiks).

Maka itulah isu #2019gantipresidendomisili semakin santer diperbincangkan dalam obrolan kami. Ingin rasanya menempati rumah sendiri, bebas mengatur segala inventaris rumah tanpa sungkan, mencurahkan segenap rasa saya pada tetek bengek barang domestik. Karena pada tahun itu, suami sudah kelar studi, dan dipastikan akan kembali ke Kraksaan. Secara logika, pastilah kami akan kembali menempati sarang kecil kami di sana dan memanfaatkan set meja makan yang jauh hari telah kami beli. Tapi sepertinya tidak semudah itu, sebab ibunda saya berasa sendiri di rumah masa kecil saya, dan ibu mertua saya juga kukuh meminta anaknya (suami saya) membangun rumah di tanah keluarga. Jadi pusing sendiri menyambut #2019gantipresidendomisili!

Pengalaman Iniasi Menyusu Dini (IMD) dengan Operasi Caesar, Tak Semudah yang Dibayangkan


Sejak divonis dokter mata dan kandungan bahwa aku akan melahirkan secara caesar, ada satu hal besar yang kami persiapkan sejak awal kehamilan : prosedur Inisiasi Menyusu Dini (IMD) kami. Untuk itu sengaja kami memilih dokter yang bisa memfasilitasi IMD dengan baik walaupun saat itu kami tinggal di kota kecil. Kami memang sangat menyadari pentingnya IMD sebab hal ini merupakan pintu utama keberhasilan menyusu di tahapan selanjutnya. Kami juga sangat ingin memberikan asupan gizi pertama yang terbaik bagi bayi kami kelak, melalui kolostrum, cairan pertama ASI yang sarat zat kekebalan tubuh dan sangat berguna bagi bayi kami. Belum lagi manfaat lainnya antara lain memberi kenyamanan dan kepercayaan diri bagi ibu dengan menyusui langsung.

Dokter kandungan yang memeriksa janin kami pun menyatakan bahwa beliau tidak bisa menjamin keberlangsungan IMD jika proses persalinan dilakukan di Rumah Sakit Umum Daerah. Apa?!? Saya sempat bingung saat itu. Alasannya adalah proses persalinan akan diserahkan kepada departemen yang mengurus bayi, otomatis setelah bayi lahir, hal itu menjadi wewenang dokter anak. Akhirnya kami menyepakati proses persalinan dilakukan di klinik swasta tempat dokter kandungan kami bertugas.

Singkat cerita, lahirlah putra pertama kami, di tanggal 7 September 2014. Saya akui proses IMD tidak berjalan mulus 100%, sebab saya berada di ruang operasi. Tidak ada prosedur yang khusus dan wajar di sana untuk melakukan IMD sesaat setelah melahirkan, langsung di ruang operasi yang begitu dingin dan memungkinkan bayi akan menggigil. Apalagi saya harus menjalani proses penutupan luka dan pemasangan KB di saat yang bersamaan di ruang operasi. Secara teori hal tersebut sebenarnya bisa dilakukan, namun sayangnya di sana tidak bisa. Saya pun dipersipakan untuk kembali ke ruangan kamar inap, sementara bayi kami masih dikeringkan dan diadzani oleh ayahnya. Setidaknya, saat itu bayi kami mendapat pengawasan penuh ayahnya sehingga kemungkinan bayi kami mendapat cairan apapun selain ASI, tidak terjadi (sebelumnya kami juga menandatangani banyak sekali berkas sebelum proses persalinan, antara lain: persetujuan tidak mendapatkan susu formula, persetujuan untuk tidak menerima cairan dextrose bagi bayi, persetujuan pertanggungan resiko sebab kami meminta rooming in atau rawat gabung dan proses IMD).

Saya akhirnya memegang bayi saya yang pertama kali sekitar 30 menit setelah proses persalinan, dan kami langsung melakukan proses IMD. Lancar? Tentu tidak, sebab ini merupakan pengalaman pertama bagi saya, walaupun teori ini telah kami pelajari secara paripurna di bangku perkuliahan gizi. Banyak kehebohan yang terjadi, terutama betapa paniknya ibu saya melihat cucunya sangat ringkih namun dipaksa menyusu sendiri. Beliau tidak yakin dan belum memahami apa itu IMD. Beruntungnya, saat itu ada mertua kakak saya yang kebetulan pernah menerima pelatihan terkait IMD. Saya pun dibimbing dengan sabar oleh beliau, bagaimanan memposisikan bayi yang tepat saat memulai IMD. Kemana tenaga kesehatan di klinik tersebut? Ada, bidan yang mengawasi kami saat itu. Sayangnya, pengalamannya sepertinya kurang, bahkan sebelum proses IMD selesai bidan tersebut justru meninggalkan kami di ruangan, hiks. Saya harap beliau hanya oknum ya, saya yakin di luar sana banyak sekali bidan yang sangat berkompeten membimbing dan membersamai iu baru dalam proses IMD.

Proses IMD kami berjalan 45 menit, sebelum akhirnya bayi kami berhasil menyusu untuk pertama kali. Isapannya sangat kuat kala itu, dan saya yakin dia telah menghisap beberapa tetes kolostrum ASI, alhamdulillah. Setelah itu bayi kami kembali dibawa ke ruangan bidan untuk dibersihkan secara menyeluruh, untuk kemudian dikembalikan kepada saya dan menjalani rawat gabung selama 4 hari. Bayi saya hanya diambil bidan saat waktu mandi dan kontrol kesehatan dengan dokter anak, selebihnya selama 24 jam dia bersama saya di ruangan inap.

Pengalaman menjadi ibu untuk pertama kali, dengan melukan operasi caesar dan IMD serta rawat gabung itu membutuhkan daya juang yang tinggi, sebab ternyata kamilah satu-satunya pasangan orang tua yang melakukan hal tersebut di kinik itu.

Pantas saja kami harus menandatangani banyak sekali seurat persetujuan sebelumnya, haha. Keberadaan suami yang siap siaga 24 jam sungguh saat berarti bagi saya, sebab beliaulah yang bisa diandalkan saat berhubungan dengan logika, sesuatu yang sempat hilang kontrol pada diri saya yang begitu sarat perasaan emosional (dalam arti yang positif) selama melahirkan.